Malam Sepi yang Indah

Desember 10, 2008
Entah apa yang menyebabkan malam ini begitu terasa indah. Padahal malam ini biasa saja, bahkan lebih kelam. Bulan tiada nampak, bintang tak satupun berkedip. Hanya awan hitam menyemai permukaan langit yang suram. Kulihat jalanan pun telah sepi dua jam lalu. Hanya satu dua suara deru motor dari kejauhan, yang tiada terlihat sosoknya.

Di bawah lampu penerang jalan, ku berdiri menatap penuh harap. Namun lalau lalang seliweran serangga terbang menganggu pikiranku. Buyar… kembali hampa, entah apa sebenarnya yang ingin kulihat. Menunggu bulan, bintang ataukah gerimis hujan. Sejenak ku berpikir, yang terbersit hanya “ah lebih baik aku kembali ke kost!”.

Belum ku tutup pintu, ponsel genggam dimeja kamar kembali berdering. Bunyi-bunyian khas tanda sms masuk, “siapakah gerangan malam-malam begini?”. Ah… siapapun itu mungkin ada sesuatu hal yang penting. Ku buka dan kulihat ada sebuah nama yang telah terdaftar dalam phonebook dan memang sudah sering mengirim pesan ke nomor hapeku. “Ah… dia lagi… apa tak bosen setiap saat kiirim sms?? Cuma tanya kabar?? Kangenlah… ada saja alasannya mengirim pesan”.

Benar saja, isinya bertanya kabar, lagi dimana, lagi ngapain, kangen pula… Jengah sebenarnya, dengan malas ku balas pesannya. “lagi sakit.. di kost… baca sms… hah? kanGen?? ada apa sich malem-malem sms?” begitu mesej yang ku kirim. Selang beberapa menit. Ia pun membalas, ia bercerita kabar bahwa iapun sedang sakit.

Semoga saja dengan kujawab sms-nya, ia dapat kembali sehat. Sudah agak lama tak ada balasan, mungkin dia sudah tidur tak baik lagi sakit koq begadang. Namun bagiku, begadang adalah suatu pilihan, bagaimana tidak saat ku coba merebah memejam mata yang ada justru selalu terjaga. Bukan insomnia, tapi memang sudah terbiasa.

Akhirnya kuputuskan untuk keluar rumah kost, kembali melihat jalanan sepi. Kupandangi langit kembali, ah… satu bintang telah nampak, meski tak seterang biasanya. Kulihat sekeliling, rumah tetangga pun sudah gelap, hanya lampu teras menyala sebagai penanda hunian. Memang malam tetaplah malam, meski ada sesuatu yang berbeda karena waktu, cuaca atau perubahan-perubahan kompleks mengarung jaman.

Disana, di bangku pojokan ku duduk terpaku, merenung, andai saja ada yang membuatku takjub malam ini. Kulihat lagi lampu penerang jalan, ternyata lebih indah dari sebelumnya. turunnya rintik gerimis membiasakan cahaya pelangi yang begitu mempesona. Di depan mata melayang kerlipan cahaya kuning, satu.. dua… tiga.. ah bukan ada tujuh cahaya kuning berkrlip terbang mengitariku.

Dibawah remang bias sinar pelangi dan gerimis basah. Ku berhibur dengan sahabat-sahabat kecil yang telah lama tak kujumpa. Kunang-kunang kembali hadir menemani malam gelap dan sepiku, akankah kembali ku alami malam sepi yang begitu indah itu? Malam yang penuh ketakjuban hati dan pesona cahaya keindahan malam.


Hari Guru Nasional

November 25, 2008
Hari ini adalah hari guru se-Indonesia, sosok yang dikatakan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa pembentuk insan cendekia” telah banyak berjuang keras membawa perubahan bagai setiap Individu manusia Indonesia. Mereka yang telah menorehkan goresan tinta emas dengan memproduksi kelompok-kelompok golongan manusia versi terdidik. Dan hasilnya adalah orang-orang luar biasa melebihi mereka sendiri atau paling tidak setara dengan kemampuan mereka.
Sebagai sosok seorang pendidik dan pengajar, guru menjadi bagian penting dalam kehidupan tatanan bersosial masyarakat. Dari sekolah sering kita diajarkan tentang etika, moral, jiwa kepekaan sosiak, dan juga ilmu-ilmu penunjang wawasan dan kecerdasan. Begitu besar jasa mereka, dan bagi negara yang punya kesadaran akan pentingnya peningkatan mutu pendidikan maka Indonesia terus mengembangkan seluruh potensi kapasitas calon pendidik. Meski kadang balasan perjuangan dari para guru hanya seberapa besar.
Berbeda mungkin dengan negara tetangga kita, Malaysia, mereka sampai mengimpor guru-guru dari negeri kita di era 1970an. Hingga hari ini, jiran kita ini telah berhasil memajukan bidang pendidikan. Sedangkan kita yang menjadi bangsa “maha guru” malah makin terpuruk, biaya pendidikan yang mahal, belum lagi kenyataan bahwa mutu pendidikannya juga rendah. Guru menjadi salah satu korban dari sistem pendidikan yang masih dalam tahap pengembangan.
Masalah kesejahteraan pribadi juga mempengaruhi kinerja, enatah itu yang sudah PNS atau yang masih tercatat sebagai guru bantu (honorer). Sampai hari ini pun masih terdengar kabar tentang aksi dari para Guru di suatu tempat. Tuntutan yang salah satunya adalah hak untuk menerima kelayakan kesejahteraan.
Namun di sisi lain dari heroiknya seorang guru, ternyata baru-baru ini terungkap kasus yang sangat memuakkan, seorang guru mencabuli anak didiknya dan tidak tanggung-tanggung kelauan bejat tersebut dilakukan di depan kelas. Hal ini merupakan pencorengan nama baik seorang guru, yang ianya adalah seorang pendidik.

Terpujilah wahai engkau ibu-bapak guru,
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,
Semua baktimu, akan ku ukir di dalam hatiku,
Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu
engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Begitu lagu yang sering dinyanyikan, tapi jujur belum pernah tahu siapa pemcipta lagunya.