Umar bin Abdul ‘Aziz

Umar Bin Abdul Aziz pernah dibuat takjub oleh seorang bocah ketika beliau kedatangan utusan dari negeri Hijaz. Ketika itu, sang bocah maju menjadi juru bicara. Melihat seorang bocah yang maju, sang Khalifah berkata, “Wahai anak kecil, duduklah, biar orang yang lebih tua darimu yang bicara.”

Mendengar itu, sang bocah menjawab, “Semoga Allah menolongmu, wahai Amirul Mu’minin. Seseorang itu dilihat dari dua hal yang kecil, yaitu lisan dan hatinya. Jika Allah memberinya lisan yang fasih dan hati yang kuat maka ia berhak berbicara… kalaulah segala urusan, ditentukan oleh usia, niscaya di antara umat ini ada yang lebih berhak menempati singgasana itu.”

Seorang bocah yang lantang mengungkapkan isi hatinya di hadapan khalifah, sungguh sebuah perkara yang mengagumkan! Terlebih jika kita menyaksikan anak-anak kita saat ini, hari-harinya diliputi kegelisahan dan sikap minder. Jangankan berbicara lantang di hadapan orang asing, untuk bicara di depan kelas saja terkadang sangat sulit bagi mereka.

Mengapa ada anak yang memiliki kekuatan psikis? Dan mengapa ada anak yang tidak memilikinya? Bocah yang membuat takjub Umar bin Abdul Aziz adalah tipe anak yang memiliki kekuatan psikis yang menakjubkan. Kecerdasan emosional yang tinggi. Lalu apa yang terjadi dengan anak-anak kita? Apa kira-kira yang akan mereka jawab jika mereka berada dalam situasi si bocah?

Semua terletak pada pendidikan (tarbiyah). Yakinlah bahwa bocah yang cakap berbicara itu adalah bocah yang sangat terdidik. Ia menerima tarbiyah yang benar dari guru utamanya. Dan, siapa lagi guru utamanya kalau bukan ibunya yang sangat menyayangi dan memahami kebutuhannya.

Yang terjadi pada anak-anak kita adalah pendidikan yang salah yang dilakukan oleh guru-guru utama mereka, orang tua mereka. Wanita-wanita yang menjadi ibu masa kini tidak banyak memahami pendidikan anak secara benar. Karena masa remaja mereka disibukan dengan kegelisahan mencari pasangan, dengan masalah-masalah pacaran dan cinta syahwati, model rambut, bentuk tubuh. Mereka tidak pernah berpikir panjang sampai urusan mendidik anak, ketika mereka mulai mengenal pacaran. Yang dibicarakan adalah cinta fatamorgana yang hampa. Sayang, mereka tidak menyadarinya.

Atau, di lain tempat wanita sudah dianggap kuno jika masih bergelut dengan urusan rumah dan mendidik anak. Mereka lebih bergairah dengan aktifitas luar rumah dengan berbagai label karir. Jangankan mendidik anak, bahkan memilikinya pun tak jarang wanita masa kini sudah tidak mau.

Kita ingin menjadi bangsa maju. Bangsa yang berperadaban. Bangsa yang tidak ketinggalan. Tetapi untuk menciptakan generasi yang mampu mewujudkan keinginan itu kita tidak mampu. Atau bahkan kita tidak mau! Seberapa besar perhatian kita sebagai orang tua (terutama ibu) terhadap pendidikan anak? Seberapa besar perhatian pemerintah kita terhadap pendidikan rakyat? Seberapa besar perhatian media terhadap pendidikan masyarakat? Seberapa besar peran sosial kita untuk menciptakan calon-calon ibu yang memiliki mimpi besar untuk melahirkan anak bakal jadi orang besar?

Mungkin kita tidak akan pernah menjadi bangsa besar, kalau ternyata perhatian kita terhadap pendidikan anak sendiri sangat kurang; kalau ternyata pemerintahan kita lebih sibuk mempertahakan kekuasannya; kalau ternyata media lebih mementingkan keuntungan tanpa peduli isi media mereka yang merusak generasi; kalau ternyata yang lebih didukung masyarakat kita adalah hiburan-hiburan yang mengerdilkan jiwa.

Akhirnya, kalau menjadi bangsa yang besar masih jadi cita-cita kita, maka secara bersama-sama mari kita mulai membenahi diri kita. Tingkatkan perhatian kita pada pendidikan di keluarga dengan menciptakan atmosfir ketakwaan dalam kehidupan rumah tangga. Ini menjadi langkah pertama, kalau ternyata pemerintahan yang ada masih dipegang orang-orang yang “benci” pendidikan.

Firman Allah: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. 4:9)

Tinggalkan Balasan