Negeri Santun

Kembali lagi aksi kekerasan terjadi di bumi kita tercinta Indon<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Kembali lagi aksi kekerasan terjadi di bumi kita tercinta Indonesia. Baru saja lewat dua minggu semenjak insiden Monas 1 Juni, hari ini terdengar aksi yang justru tidak layak. Bagaimana tidak?? Beberapa hari kemarin kita saksikan bersama di televisi tentang aksi kekerasan oleh Genk Perempuan. Terus terang dalam hati tentu bertanya “separah itukah remaja perempuan Indonesia sekarang?”

Kalau laki-laki yang melakukan perkelahian mungkin orang masih menganggap “ahh… sudah biasa!” tapi kali ini ternyata perempuan, masih SMA lagi. Sementara cerita yang telah lalu misalkan kasus STPDN, sekarang terkuak kembali kasus yang sama dalam STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) Astaghfirulloh…!! Sepatutnya kita semua beristighfar. Kalau dulu Negeri kita dikenal sebagai negeri yang ramah, sopan, santun dan cinta damai, sementara kondisi sekarang …weks… jauh banget sama kondisi dulu. Yang sampai-sampai kita itu terlalu ramah bahkan kepada penjajah sekalipun.

Kompleks sekali permasalahan yang dihadapi bangsa ini, dari kaum elit sampai grass root, yang tua sampai yang muda, yang kaya sampai yang miskin, semua ternyata menjadi sumber masalah tersendiri di negeri ini. Kalau dicermati, ujung masalahnya berada pada moral hazard manusia Indonesia. Dan kebanyakan diantaranya lebih menonjolkan emosi dibanding dengan logika ataupun hati. Secara logika tentu orang berpendapat “hidup butuh orang lain” sehingga tak mungkin ia akan berusaha menyingkirkan hal yang dibutuhkannya. Dan hati pun ikut membenarkan, tak akan tega kita menyakiti atau merusak hal yang kita butuhkan dan yang disayangi.

Contoh yang sederhana, dahulu mencorat-coret tembok tentu sangatlah tak disukai dan bakal dikejar-kejar sama hansip. Tetapi sekarang dengan keindahan graffiti, tembok-tembok sekitar kita berhias lukisan indah, bahkan banyak yang berisikan pesan moral. Atau juga dulu orang beranggapan jika jadi musisi pasti masa depan suram, tetapi kini waahhh…. udah banyak band-band ngetop dan sukses.

Oops… kayaknya contohnya kok nggak ada hubungan sama moral ya? Nggak papa kok… missal pada contoh tadi, graffiti mencorat-coret tembok bila dilihat dengan emosi tentu banyak orang akan marah jika tembok pagar/rumahnya dicorat-coret sembarangan. Tapi dengan sentuhan seni (pakai hati) tentu akan lain jawabnya.

Kawan, balik lagi ke persoalan yang terjadi dinegeri ini, kira-kira apa yang harus kita lakukan untuk pembenahan akhlak manusia Indonesia. Alhamdulillah, kita selaku muslim sudah punya panduan (Qur’an dan Hadits), jadi tinggal kita laksanakan apa-apa yang tertulis sebagai panduan hidup kita. Ketika ada selisih pendapat, akan lebih bagus bila dikomunikasikan. Bukan menusuk dan menggunjing dari belakang.

Dari banyak referensi buku, umat Islam saat ini layaknya buih dilautan, yang ia teromabang-ambing karena arus dan ombak atau juga terhempas karena angina dan badai. Memang dengan keberagaman, umat lebih gampang terpecah. Pada beberapa proses insiden monas, mungkin akan banyak umat Islam yang ikut mencibir FPI (meski masih sama-sama saudara seislam) dan malah menjadi simpatik dengan ahmadiyah ataupun AKKBB sebagai obyek penderita/ korban penyerangan.

Dari sini perlulah untuk kita belajar, sudah seharusnya umat Islam sehati. Jangan ada dzon-dzon dan saling curiga diantara kita. Mulailah untuk kembali mewujudkan negeri yang santun, sebagaimana Islam pun mengajarkan agar kita tak bermuka masam saat bertemu dengan orang lain. Bahkan kita diharapkan bisa menebar senyum kepada setiap orang yang kita jumpai, karena senyuman itu adalah sedekah.[]

Tinggalkan Balasan