Baru saja kita dengar sebuah perseteruan yang cukup unik, Roy Suryo berani menerima tantangan Deddy Corbuzier. Sebagai akibat karena sang Pakar IT tersebut meremehkan cara meramal dari Sang Ilusionis Kondang itu. Bicara ramal-meramal tentu nggak sembarang orang mau dan berani menjadi peramal, oleh karena itu lebih baik simak yang satu ini.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang Badui datang menghadap Rosululloh dan berkata: “Istriku sedang hamil, cobalah terangkan jenis kelamin apa yang akan dia lahirkan (apakah pria atau wanita). Negeriku kekeringan, kapankah akan turun hujan, dan aku tahu kapan aku dilahirkan, tapi terangkan padaku kapan aku mati?” Maka turunlah ayat di atas yang menegaskan bahwa hanya Alloh yang mengetahui segala sesuatu (baca dulu QS. Luqman : 34).
Dari hal ini dapat kita ambil hikmahnya, bahwa Nabi Muhammad saw tidak mampu untuk menjawab pertanyaan orang Badui tersebut. Hal ini bukan berarti Nabi lemah dan tidak pandai, namun hal ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap manusia mempunyai batasan-batasan tertentu dalam memikirkan hal-hal yang ghoib, terlebih lagi berkaitan dengan apa yang terjadi tentang hari esok.
Ironisnya, pada saat sekarang ini, ayat tersebut sudah tidak dijadikan sandaran bagi umat manusia, khususnya orang Islam itu sendiri yang masih percaya pada ramalan-ramalan bintang yang dengan yakinnya sudah mengetahui dengan pasti apa yang terjadi saat ini dan yang akan datang. Umat telah dibodohi dan dirusak aqidahnya, dan lambat laun akan menuju pada kesyirikan.
Betapa banyak generasi muda Islam sekarang yang telah terjebak pada ramalanĀramalan yang bersifat tahayul tadi. Dan hal inilah yang mengakibatkan mereka menjauhi nilai-nilai yang terkandung dalam Al Quran dan hadist. Mereka lebih percaya pada hal-hal yang bersifat tidak pasti dan akibatnya menjauhi pada Sang Robb, Pencipta alam semesta dan pencipta pada diri mereka sendiri.
Padahal dalam kacamata sejarah, hal ini sangat dilarang (haram) bila kita masih percaya dengan hal-hal yang justru menjerumuskan pada kesesatan. Sebagai seorang muslim tentunya ayat di atas bisa dijadikan sebagai bahan perenungan kembali, bahwa selama ini kita telah salah clan sudah seharusnya untuk kembali pada jalan yang benar. Bagaimana seorang nabi yang sudah dijamin masuk surga dan sudah diberi kelebihan-kelebihan oleh Alloh, tidak berani menjawab ketika ditanya tentang halĀ-hal yang ghoib, bagaimana dengan kita yang justru dengan mudah untuk mempercayainya, dan kita sendiri tentu tidak tahu siapa orang-orang yang telah memberikan ramalan-ramalan tersebut. Apakah kita bisa menjamin mereka itu orang-orang yang seiman dan mampu untuk memasukkan kita ke dalam surga?
Tentunya sebagai seorang muslim pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur, akankah mereka itu (peramal-red) telah mendatangkan manfaat yang besar dengan ramalan-ramalannya tersebut? Bagi kita yang sudah telanjur, mari segera berbenah diri kembali kepada jalan yang lurus, agar kita sebagai generasi penerus bisa memperbaiki kondisi umat yang telah luntur dan hancur akidahnya.